Home / Berita / Berita Ma'had / Ma’had Al Jamiah, Penangkal Aliran Sesat di Lingkungan Kampus

Ma’had Al Jamiah, Penangkal Aliran Sesat di Lingkungan Kampus

Jakarta (Pinmas) —- Maraknya beberapa kasus pemahaman dan pemikiran agama yang cukup meresahkan masyarakat dan dianggap sesat di lingkungan kampus cukup mendapat perhatian dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Dit. PD Pontren).

Guna mengantisipasi maraknya model pemahaman beragama yang keluar dari mainstream, Dit. PD Pontren berencana memperluas jangkauan Ma’had Al Jamiah kepada mahasiswa. 

“Untuk itu, melalui Mahad al Jamiah diharapkan akan menjadi filter dari  arus pemahaman dan pemikiran agama yang sempit dan sesat yang belakangan ini marak di kalangan mahasiswa,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ace Saefuddin, saat membuka acara Workshop Kelembagaan Pendidikan Diniyah, Selasa (10/6) kemarin.  


 

Ace Saefuddin menjelaskan bahwa Mahad al Jamiah merupakan lembaga Pendidikan keagamaan  Diniyah Non Formal tingkat Tinggi yang diatur  dalam PP 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Penyebutan istilah  Ma’had al Jamiah hanya sebagai nama kategorisasi yang membedakannya dengan istilah Ma’had Ali yang sudah diatur dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

“Di dalam PP 55 tersebut, pemerintah mendapat amanat untuk mengembangkan pendidikan tambahan untuk para mahasiswa di bidang Pendidikan Agama Islam,” paparnya. 

Lebih lanjut, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah, Mamat Salamet Burhanuddin menambahkan bahwa selain sebagai forum komunikasi dan silaturahim antara pengelola Ma’had Al Jamiah di seluruh nusantara, diharapkan pula dalam workshop ini akan mendiskusikan tentang rumusan pola pengelolaan Ma’had Al Jamiah yang ideal dan bermutu dengan muatan pemahaman agama yang lebih komprehenship, moderat, dan inklusif serta rahmatan lil ‘alamin.  

“Dengan model ini masyarakat dan pemerintah  akan bersama-sama  dapat membendung laju perkembangan aliran pemahaman agama yang rigid, sempit, dan  tidak sesuai dengan kultur  masyatakat Indonesia,” terang Mamat.

Untuk diketahui, workshop ini diikuti perwakilan pengelola Ma’had Al Jamiah dari beberapa provinsi dan perguruan Tinggi di Indonesia. Dalam Workshop ini pula, hadir para praktisi, pengelola, pejabat dan akademisi guna mengkritisi sisi akademik pengembangan Ma’had al Jamiah ini. (sholla/mkd/mkd)

sumber : kemenag.go.id

Comments

comments

About admin

Check Also

j-putraa

Mahasantri Urus Jenazah Temannya

INTI –(16-10) Tiap-tiap Muslim tahu bahwa mengurus mayyit merupakan fardu kifayah (harus ada sebagian kaum …